Lambung Mangkurat: Sos...

Lambung Mangkurat: Sosok Berpengaruh di Kerajaan Negara Dipa, Namanya Abadi di Kalsel

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, Lambung Mangkurat adalah tokoh sentral yang memiliki peran dominan dalam Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14 di Kalimantan Selatan. Meskipun tak pernah menjabat raja, kebijaksanaan dan kepemimpinannya sebagai patih atau mangkubumi membuatnya tetap dikenang. Namanya kini diabadikan pada berbagai fasilitas, termasuk Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Asal-usul Nama Lambung Mangkurat
Berdasarkan berbagai sumber, termasuk Hikayat Banjar, Lambung Mangkurat bukanlah nama asli. Ada beberapa versi nama lain yang berkembang, seperti Lambu Mangkurat, Dambung Mangkurap di masyarakat Dayak Maanyan, serta Lembu Amangkurat. Perbedaan pelafalan dan bahasa diduga menjadi penyebab variasi nama tersebut.

Kendati demikian, nama Lambung Mangkurat kini lebih dikenal merujuk pada tokoh penting di Kerajaan Negara Dipa.

Latar Belakang Keluarga dan Berdirinya Kerajaan Negara Dipa
Lambung Mangkurat merupakan putra dari Ampu Jatmaka, seorang saudagar kaya yang mendirikan Kerajaan Negara Dipa sekitar abad ke-14. Ampu Jatmaka diketahui berasal dari Negeri Keling, wilayah yang beberapa sumber sebut berada di sekitar India.

Ia datang ke Kalimantan bersama rombongan pedagang dan pengikutnya. Pusat kekuasaan awalnya di Candi Laras (Margasari), kemudian berpindah ke Candi Agung (Amuntai), seperti tertulis dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 2 (Soekirno, 2005).

Lambung Mangkurat adalah anak kedua dari Ampu Jatmaka. Kakaknya bernama Ampu Mandastana, yang juga dikenal dengan gelar Lambung Jaya Wanagiri. Sementara itu, identitas ibu Lambung Mangkurat tidak banyak dijelaskan dalam Hikayat Banjar.

Peran Lambung Mangkurat dalam Kerajaan
Sejak kecil, Lambung Mangkurat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang berpengaruh, namun ia menjunjung tinggi kerendahan hati. Ayahnya, Ampu Jatmaka, tidak mau menjadi raja karena merasa bukan keturunan bangsawan sah, dan sikap ini diwariskan kepada anak-anaknya.

Saat Kerajaan Negara Dipa berkembang, Lambung Mangkurat diperkirakan berusia muda hingga dewasa awal, digambarkan telah dewasa dalam Hikayat Banjar. Setelah Ampu Jatmaka wafat, ia bersama kakaknya tidak langsung mengambil alih takhta. Mereka memilih menjaga stabilitas kerajaan.

Lambung Mangkurat mulai berperan sebagai pengatur pemerintahan di balik layar. Ia mengelola wilayah, menjaga hubungan masyarakat, dan memastikan kerajaan tetap berjalan meski belum memiliki raja.

Puncak perannya terlihat saat ia menemukan Puteri Junjung Buih melalui pertapaan. Lambung Mangkurat kemudian membawa Puteri Junjung Buih ke istana dan mengangkatnya sebagai anak, sekaligus menjadikannya Ratu Kerajaan Negara Dipa.

Setelah Puteri Junjung Buih menjadi ratu, Lambung Mangkurat menjabat sebagai patih atau mangkubumi. Perannya sangat luas, meliputi pengelolaan pemerintahan dan penentuan arah politik.

Diketahui, Lambung Mangkurat juga berperan menjodohkan Puteri Junjung Buih dengan Maharaja Suryanata dari Majapahit. Ini menjadi bukti pengaruhnya dalam hubungan antarwilayah kerajaan.

Meskipun tidak pernah menjadi raja, peran Lambung Mangkurat sangat dominan sebagai sosok di balik layar yang memastikan kerajaan berjalan baik. Kebijaksanaan dan kontribusinya dalam membangun fondasi kerajaan Banjar inilah yang membuatnya tetap dikenang.

Filosofi di Balik Sosok Lambung Mangkurat
Selain sebagai tokoh pemerintahan, Lambung Mangkurat juga memiliki makna filosofis kuat dalam masyarakat Banjar. Ia digambarkan dekat dengan alam, khususnya air, elemen penting dalam kehidupan setempat.

Lambung Mangkurat sering bertapa di pinggir sungai untuk mencari ketenangan dan ilmu. Dalam masyarakat Banjar, air melambangkan keseimbangan, kesabaran, dan kekuatan. Kisah pertapaannya di atas air diartikan sebagai pencarian makna hidup dan kebijaksanaan.

Diabadikan sebagai Nama Universitas
Nama Lambung Mangkurat kemudian diabadikan sebagai nama Universitas Lambung Mangkurat (ULM), perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Selatan. Penamaan ini didasari pertimbangan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang ingin diwariskan.

ULM resmi berdiri pada tahun 1958, merespons kebutuhan institusi pendidikan yang meningkat di Kalimantan Selatan. Pemilihan nama Lambung Mangkurat menjadi bentuk doa agar nilai kepemimpinan seperti kebijaksanaan, tanggung jawab, dan pandangan jauh ke depan, tertanam dalam dunia pendidikan.

Selain itu, penamaan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap kisah dan legenda masyarakat Banjar.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan