Remaja 14 Tahun Diduga...

Remaja 14 Tahun Diduga Gantung Diri di PPU, Ini Kronologinya

Ukuran Teks:

Penajam Paser Utara

Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

KabarKalteng.com, polisi mengungkap kronologi penemuan jasad remaja perempuan berinisial SA (14) yang meninggal dunia diduga gantung diri di rumahnya, Penajam Paser Utara (PPU), pada Kamis (12/2/2026). Korban ditemukan oleh bibinya setelah mendobrak pintu rumah yang tak merespons.

Menurut Kapolsek Babulu Darat AKP Ridwan Harahap, korban SA saat itu sendirian di rumah. Kedua orang tuanya sedang berada di rumah sakit karena sang ayah sakit. "Jadi korban ini sendiri di rumah, kedua orang tuanya di rumah sakit karena bapaknya sedang sakit," kata Ridwan kepada detikKalimantan, Kamis (12/2/2026).

Ibu korban sebelumnya menitipkan SA kepada saudaranya untuk dibawa pulang ke rumah. Setibanya di rumah, bibi korban merasa bingung karena tidak ada respons dari dalam.

Bibi korban kemudian menggedor-gedor pintu dan memanggil, namun tetap tidak ada yang keluar. Mereka akhirnya berinisiatif mendobrak pintu lewat bagian belakang rumah. "Digedor-gedor, dipanggil tidak ada yang keluar, sehingga mereka berinisiatif untuk mendobrak lewat belakang," jelas Ridwan.

Setelah pintu terbuka, bibi korban sempat melihat korban dan menegurnya. Awalnya ia mengira SA hanya berdiri biasa. "Tadinya tantenya berpikir berdiri biasa, lalu ditegur ‘kenapa kamu berdiri di situ’ ternyata dilihat di atas ada tali tergantung," ungkap Ridwan.

Setelah kejadian tragis tersebut, bibi korban segera melaporkan penemuan itu ke Polsek Babulu Darat. Berdasarkan keterangan dari orang tua korban, tidak ada gelagat aneh yang ditunjukkan SA sebelum kejadian. "Kalau sebelum kejadian, katanya tidak ada yang aneh sebelum kejadian," ujar Ridwan.

Diketahui, korban SA merupakan siswi kelas 7 SMP. Dari pendalaman polisi terhadap orang tuanya, terungkap bahwa korban sudah tiga kali pindah sekolah.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan