Balikpapan – KabarKalteng.com, buah kapul, si manis khas Kalimantan, kini kian sulit ditemukan dan nyaris terlupakan di tengah perubahan lingkungan. Buah lokal yang dulu akrab dengan masyarakat sekitar hutan karena rasanya yang asam, manis, dan menyegarkan ini, belakangan kembali mencuri perhatian warganet setelah dicicipi kreator konten @sibungbung.
Diketahui, buah kapul (Baccaurea macrocarpa) merupakan buah lokal Kalimantan yang pernah tertanam di antara rimbunnya hutan tropis Indonesia. Buah ini juga dikenal dengan nama lain seperti pasin, tampoi, setai, jentikan, pegak, dan terai. Kapul yang berwarna putih termasuk dalam keluarga suku phyllanthaceae.

Daging buah kapul berwarna putih, berbentuk bulat, dan bertekstur serat halus serta agak basah. Sekilas, buah ini menyerupai duku versi lebih besar yang tidak berbau, dengan pola daging mirip bawang dan manggis. Rasanya pun mengingatkan pada daging buah manggis.
Buah kapul memiliki rasa manis dan asam manis yang menyegarkan, dengan tekstur daging menyerupai manggis. Kulitnya berwarna cokelat muda, tebal, berbentuk bulat dengan ujung meruncing. Bijinya agak gepeng, diselimuti daging buah yang lunak.
Terdapat variasi pada tanaman kapul, ada yang berdaging buah putih, merah, dan kuning. Buah kapul diketahui tumbuh di Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Sumatra. Kreator konten asal Tabalong, Kalimantan Selatan, @lampaa02, pernah mengunggah video di TikTok saat panen dan mencicipi varian oranye kemerahan dan putih, menyatakan keduanya memiliki rasa yang sama.

Pemanfaatan Buah Kapul
Buah kapul sangat digemari binatang dan penduduk yang bermukim di hutan. Selain itu, buah ini memiliki makna budaya yang kuat bagi masyarakat Dayak. Mereka memanfaatkannya dalam ritual ‘Memulangan Buah’, sebuah upacara untuk menolak bala yang diyakini bisa memengaruhi hasil panen.
Dari sisi kesehatan, warga setempat meyakini kapul memiliki khasiat meredakan sembelit, sakit perut, hingga membantu mengatasi peradangan sendi. Kayu dari pohon kapul yang padat kuat juga biasa digunakan sebagai bahan bangunan. Pemanfaatan buah kapul juga kerap digunakan sebagai bahan pembuatan tuak oleh masyarakat Dayak.

Namun, keberadaan tanaman kapul kini sudah mulai berkurang drastis. Jumlah buah kapul di pasaran sangat sedikit, terutama di luar Kalimantan. Buah tampoi atau kapul dulunya kerap dijual di tepi jalan atau di pasar malam dan menjadi buruan anak-anak ke hutan.
Pohon kapul dulunya tumbuh tinggi dan liar di hutan-hutan dataran rendah, hutan riparian, hutan rawa, hingga hutan sekunder, mencapai ketinggian 1.600 mdpl. Tingginya bisa mencapai kurang lebih 15 meter, dengan tekstur batang kasar, serta warna kulit batang dan getahnya kecokelatan yang kental dan agak lengket. Namun kini, pohon kapul semakin sulit ditemukan seiring perubahan lingkungan dan berkurangnya habitat alami.