Balikpapan – KabarKalteng.com, Balikpapan – Sebuah studi terbaru mengungkap fakta mengejutkan mengenai pemandian umum pertama bangsa Romawi kuno di Pompeii, Campania, Italia. Pemandian yang digunakan antara 130 dan 30 SM ini ternyata kotor, terkontaminasi limbah manusia, serta airnya hanya diganti sekali sehari, berbanding terbalik dengan reputasi Romawi akan kebersihan dan sistem air canggih.
Fakta ini terungkap dari penelitian geoarkeolog Gul Surmelihindi dan tim dari Universitas Johannes Gutenberg Mainz, Jerman. Dikutip dari detikEdu melalui Live Science, penelitian tersebut menganalisis senyawa kimia kalsium karbonat pada kerak di Pemandian Republik di Pompeii. Studi ini telah diterbitkan pada 12 Januari lalu di jurnal PNAS.
"Sangat mungkin bahwa pengalaman mandi di fasilitas pemandian kecil ini mungkin tidak higienis dan karenanya tidak terlalu menarik," kata Surmelihindi. Menurut para peneliti, pemandian umum adalah bagian penting dari budaya Romawi, yang berkembang seiring perluasan Kekaisaran Romawi.
Pada puncak kejayaannya, bangsa Romawi membangun saluran air jarak jauh untuk keperluan mandi dan membersihkan diri setiap hari. Namun, situasi berbeda terjadi di pemandian paling awal di Pompeii, yang beroperasi antara sekitar tahun 130 dan 30 SM. Sebelum kota tersebut memiliki saluran air, fasilitas pemandian diisi dari sumur dan tangki menggunakan mesin pengangkat air yang dioperasikan budak.
"Air tidak dapat diisi ulang lebih dari sekali sehari," jelas Surmelihindi. Ia memperkirakan air akan kurang bersih dalam kondisi tersebut, terutama sebelum diisi ulang.

Untuk menyelidiki komposisi air, peneliti mempelajari sampel kalsium karbonat. Mineral ini terbentuk ketika ion kalsium dalam air sadah bereaksi dengan ion karbonat, menyebabkan endapan kerak kapur.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan isotop karbon yang signifikan antara sumur pemasok air dan kolam air panas tempat orang-orang mandi. Nilai isotop karbon terendah ditemukan di area aliran air, mengindikasikan masuknya karbon organik dari aktivitas mikroba dan limbah manusia seperti keringat, sebum, urin, dan minyak mandi.
"Pemandian ini merupakan pengalaman yang tidak kita miliki saat ini," kata Cees Passchier, salah satu penulis studi dan geoarkeolog dari Universitas Johannes Gutenberg Mainz, kepada Live Science. Ia menambahkan, orang-orang Romawi tidak menggunakan sabun, melainkan minyak zaitun untuk menggosok dan mengikis kotoran, yang sebagian masuk ke air.
Berdasarkan temuan tersebut, air di kolam Pemandian Republik menunjukkan kontaminasi tinggi oleh limbah manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa air tidak diisi ulang secara teratur, menunjukkan kebersihan yang buruk bagi pengunjung pemandian di Pompeii.
Selain itu, para peneliti juga menyelidiki kontaminasi logam berat dengan menganalisis jejak unsur. Tim mengidentifikasi peningkatan kadar timbal di Pemandian Republik, unsur beracun yang kemungkinan masuk melalui sistem pipa timbal di kompleks pemandian.
(aau/aau)