Siswi MTs Pontianak Ga...

Siswi MTs Pontianak Gantung Diri Usai Tulis Surat Permintaan Maaf

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, Pontianak – Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) berusia 13 tahun ditemukan meninggal dunia gantung diri di rumahnya di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Kamis (22/1/2026) pagi. Korban diduga bunuh diri karena malu setelah melakukan kesalahan di sekolah, meninggalkan sebuah surat berisi permintaan maaf sebelum meninggal.

Polisi menemukan selembar kertas berisi pesan terakhir dari korban. Kanit Reskrim Polsek Sungai Kakap, Ipda Adrianus Ari, menjelaskan surat tersebut mengungkap alasan korban.

"Dalam surat itu intinya korban malu untuk datang ke sekolah. Korban minta maaf ke keluarga atas keputusan yang diambil dan minta dimakamkan dengan layak serta jangan libatkan kepolisian," kata Ari, Selasa (27/1/2026). Surat tersebut menjadi petunjuk utama, setelah sebelumnya beredar dugaan siswi itu gantung diri usai dibully.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) pada Kantor Kemenag Kota Pontianak, Aris Sujarwono, telah melakukan pertemuan dengan keluarga korban dan pihak madrasah pada Selasa (27/1/2026). Berdasarkan pertemuan tersebut, terungkap siswi berusia 13 tahun itu bunuh diri sehari setelah dipanggil guru MTs karena perbuatan yang dianggap salah.

Aris menjelaskan, pada Sabtu (17/1/2026), di MTs tersebut ada kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR). Saat ruangan kelas kosong, korban masuk dan mengambil uang milik siswi lainnya.

"Almarhumah pada saat waktu kosong tersebut, saya tidak mengatakan ini sebagai kesalahan. Mungkin niatnya meminjam uang tanpa sempat memberitahu," ucap Aris, Rabu (28/1/2026).

Uang yang diambil senilai sekitar Rp 200 ribu. Pelajar PMR kemudian panik karena kehilangan uang. Kejadian ini baru diketahui pada Selasa (20/1/2026).

Setelah dicek melalui CCTV, terlihat gambar yang mengarah kepada korban. "Potongan video yang sempat beredar itu untuk mencari siapa orangnya. Tanpa menyebutkan ini almarhumah," jelas Aris.

Setelah mengetahui siapa yang ada dalam rekaman CCTV, pihak sekolah melakukan pendekatan secara persuasif. Wali kelas, Pak Daeng Bustami, tidak langsung memanggil korban, melainkan memanggil seluruh peserta PMR yang hadir pada hari Sabtu.

"Wali kelasnya, Pak Daeng Bustami bertanya ke almarhumah. Kenapa melakukan ini. Katanya ada keperluan sesuatu," ujarnya.

Korban akhirnya menyampaikan bahwa uang tersebut ada di rumah. Wali kelas kemudian menawarkan bantuan untuk kebutuhan korban.

Aris juga menyinggung isi surat yang dibuat korban. Korban menyampaikan terima kasih kepada orang tuanya, meminta maaf, dan menyatakan tidak menyalahkan siapa pun. Ia juga berharap kejadian ini tidak dilaporkan ke pihak kepolisian.

"Surat tersebut dibuat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Artinya tidak ada kejadian di luar dari surat itu. Kalau ada misalnya tekanan, bullying, pasti mengadu ke ibunya. Jadi, ini karena almarhumah merasa malu saja," tegas Aris.

Video CCTV yang sempat beredar kini sudah diturunkan (take down) atas permintaan keluarga. Dalam video tersebut tidak ada penyebutan nama almarhumah atau tuduhan langsung.

"Kesimpulan kami, kejadian ini adalah murni didorong oleh rasa malu secara pribadi, bukan akibat perundungan," pungkas Aris. Pihak Kemenag berharap peristiwa ini menjadi edukasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan