Harga BBM Naik Akibat ...

Harga BBM Naik Akibat Konflik, Penjualan Mobil Listrik Meroket di Asia

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, Balikpapan – Pembelian mobil listrik di beberapa negara Asia mengalami kenaikan signifikan setelah harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak akibat konflik di Timur Tengah. Tren ini tercatat di Filipina, Vietnam, dan Thailand, menunjukkan pergeseran minat konsumen. Lonjakan penjualan terjadi dalam beberapa pekan terakhir pada Maret 2026.

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip detikOto, penjualan mobil listrik BYD di Filipina melonjak pada dua pekan pertama Maret 2026. Capaian itu menyamai total pembelian bulanan pada kondisi normal. Salah seorang penjual BYD di Manila menyatakan, "Banyak klien mengganti mobilnya ke EV karena kenaikan harga BBM."

Sementara itu, di Vietnam, merek Vinfast juga kecipratan untung. Sebanyak 250 unit mobil listrik Vinfast laku terjual dalam tiga pekan sejak perang Amerika Serikat-Israel dan Iran berkecamuk. Jumlah tersebut jauh di atas rata-rata penjualan normal Vinfast yang hanya 50 unit per pekan.

Seorang karyawan di Vietnam mengungkapkan, warga beralih ke mobil listrik karena kekhawatiran kelangkaan BBM dan efisiensi biaya. "Pindah ke mobil listrik membantu saya menghemat uang," ujarnya.

Tren serupa juga melanda Thailand. Penjualan mobil listrik di sana sempat diprediksi melambat setelah pemerintah mulai mencabut insentif. Namun, kenaikan harga minyak membuat banyak konsumen tetap memilih kendaraan listrik.

Juru Bicara Asosiasi Federasi Industri Otomotif Thailand, Surapong Paisitpatnapong, menjelaskan bahwa awalnya mereka tidak yakin dengan permintaan mobil listrik di 2026 karena subsidi dikurangi. "Tapi jika harga minyak bertahan pada level ini atau bahkan naik lebih tinggi, kami memperkirakan permintaan yang lebih banyak terhadap kendaraan listrik," paparnya.

Bloomberg menambahkan, kenaikan tren mobil listrik ini paling menguntungkan China sebagai eksportir besar. Ekspor mobil elektrik China meningkat dua kali lipat pada dua bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Di Indonesia, harga BBM sejauh ini belum mengalami kenaikan seperti negara tetangga. Namun, para pakar memperkirakan lonjakan harga akan terjadi. Hal ini disebabkan Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia, masih ditutup.

Dalam jangka panjang, ekonom memprediksi penggunaan mobil listrik akan mendominasi. Kepala Ekonomi Asian Development Bank, Albert Park, menyatakan, "Harga minyak yang lebih tinggi akan membantu transisi ke kendaraan listrik. Itu menciptakan insentif ekonomi, yang akan mendorong transisi hijau."

(des/des)

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan