KabarKalteng.com – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada 17 Februari dirayakan semarak di Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat. Selain lampion dan barongsai, ragam kuliner khas menjadi sajian istimewa yang sarat makna. Makanan-makanan ini bukan sekadar lezat, melainkan simbol doa untuk keberuntungan, rezeki, kesehatan, dan keharmonisan keluarga.
Perpaduan tradisi Tionghoa dan kearifan lokal di Kalimantan melahirkan sajian unik yang kaya akan cerita akulturasi budaya. Dirangkum dari berbagai literatur dan situs resmi Kementerian Pariwisata, berikut daftar kuliner khas yang meramaikan Imlek di sana:
1. Kue Keranjang
Kue keranjang atau nian gao selalu identik dengan Imlek. Teksturnya kenyal dan rasanya manis, dipercaya membawa keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Rasa manis legitnya melambangkan harapan hidup serba manis. Sementara itu, bentuk bundar, kenyal, dan lengketnya menjadi simbol pengharapan agar keluarga besar selalu bersatu, rukun, dan lekat.
Menurut buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita karya Shinta Teviningrum, kue keranjang disebut Tii Kwee (kue manis) dalam dialek Hokkian. Terbuat dari campuran ketan dan gula, kue ini ditaruh dalam cetakan berbentuk keranjang. Di Pontianak dan Singkawang, pedagang sudah banyak menjajakan kue keranjang jelang Imlek.
2. Kue Mangkok
Kue mangkok, atau dikenal sebagai fa gao, menjadi salah satu hidangan khas Imlek. Kue dari tepung beras ini berbentuk bunga mekar dan kerap dijajakan di pasar tradisional.
Kue mangkok sering disebut ‘kue kemakmuran’ karena dipercaya mampu membawa rezeki yang terus berkembang. Diketahui, semakin banyak kelopak pada kue ini, semakin besar pula keberuntungan yang akan diterima.

3. Kok Chai
Kok chai merupakan pastel mini isi selai kacang yang kerap muncul saat Tahun Baru. Kue ini memiliki simbol kekayaan serta kemakmuran yang melimpah.
Rasanya manis, renyah, dan digemari banyak orang. Bahan yang digunakan juga sederhana, seperti kacang, telur, gula, biji wijen, hingga butter.
Kok chai berbeda dengan chai kue yang mirip pastel berisi suwiran daging ayam. Sementara di Malaysia, sajian chai kue mungkin lebih mirip karipap.
4. Kue Ku
Kue ku atau punya nama lain kue tok, kue kura-kura merah, kue angku, dan di Jawa disebut kue moto kebo. Ini adalah salah satu hidangan khas Imlek.

Terbuat dari tepung ketan dengan isian kacang hijau, kue ku menjadi simbol kemakmuran. Motif huruf atau gambar keberuntungan sering dicetak di permukaannya, menambah nilai filosofi dalam menyambut Tahun Baru Imlek.
5. Bingka Barandam
Kue bingka merupakan camilan manis khas Banjar yang berbentuk menyerupai bunga. Kue ini memiliki citarasa legit, manis, dan teksturnya lembut.
Murdijati-Gardjito dkk dalam bukunya Ragam Kudapan Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan menyebut arti dari bingka barandam adalah bingka yang direndam dalam air gula. Bingka barandam juga memiliki nama lain, yakni alua tarjun, yang berarti manis terjun.
Kue ini biasanya hadir dalam berbagai momen penting, mulai dari acara keluarga, perayaan adat, hingga sajian khas di bulan Ramadan. Teksturnya yang empuk dengan balutan kuah manis membuatnya berbeda dari bingka pada umumnya. Bagi masyarakat Banjar, kue bingka memiliki makna budaya mendalam. Kudapan ini kerap hadir dalam berbagai peristiwa penting, baik adat maupun keagamaan.

6. Kue Kaswi
Kue kaswi rasanya kenyal legit dengan balutan kelapa renyah. Kue khas Malaysia ini mirip ongol-ongol, namun pembuatannya lebih praktis.
Perpaduan tepung terigu dan tepung tapioka memberi tekstur kenyal lembut. Gula aren atau gula Jawa memberi rasa legit sekaligus aroma harum, ditambah balutan kelapa parut yang segar gurih.
Kue Kaswi juga disebut kue Loempang atau Kue Ijo, populer di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya. Kue kukus ini sering dijumpai dalam prosesi upacara adat budaya Palembang, maupun pada momen perayaan hari raya seperti Lebaran, Imlek, dan tahun baruan.
7. Kue Bulan
Kue bulan juga disebut mooncake. Berdasarkan situs Travel China Guide, kue Imlek ini sudah ada sejak 3.000 tahun lalu di China, yakni pada masa Dinasti Shang (abad ke-17 SM – 1046 SM) dan Dinasti Zhou (abad ke-17 SM – 256 SM). Namun saat itu namanya adalah Taishi.

Kue ini mirip dengan pia, namun isiannya adalah kacang merah. Ciri khasnya adalah dibuat dengan cetakan sehingga bagian atas kue berbentuk unik, seperti bunga mekar. Di Indonesia, kue bulan tersebar di banyak daerah. Bahkan di Denpasar terdapat Festival Kue Bulan sebagai bentuk toleransi kepada masyarakat Tionghoa.
8. Onde-onde
Kue ini dikenal di berbagai daerah dan sering dihadirkan sebagai sajian kue Imlek. Onde-onde khas berbentuk bulat dengan wijen pada kulit luarnya dan isian kacang hijau lembut di dalamnya.
Kue ini ternyata berasal dari China, tepatnya pada masa Dinasti Zhou (1045 – 256 SM). Mulanya, onde-onde dibuat untuk disajikan kepada para tukang kayu dan tukang batu yang membangun istana.
Pada masa Dinasti Tang, kue ini disebut ludeui. Masyarakat China Utara mengenal onde-onde dengan sebutan matuan. Ada juga yang menyebutnya dengan ma yuan dan jen dai.

9. Kembang Goyang
Di Indonesia, tampilan kue yang satu ini dinamakan kembang goyang. Sementara itu, di Malaysia, kue ini disebut kuih loyang, yang dikenal dengan nama ‘matt fung dao’ dalam bahasa Kanton.
Kue kering gurih dan asin ini dibuat dari tepung, lalu digoreng dalam minyak panas. Disadur dari buku 30 Resep & Peluang Usaha Snack Kering Dalam Kemasan milik Yuyun Alamsyah, kembang goyang merupakan camilan tradisional yang sudah lama dikenal di Indonesia.
Camilan ini terbuat dari tepung beras yang digoreng dengan cetakan berbentuk bunga. Karena bentuknya menyerupai bunga, diberi nama kembang. Sementara goyang, diambil dari proses pembuatannya yang harus digoyang-goyangkan supaya adonan bisa lepas dari cetakan. Di tradisi warga China, kuih loyang menggambarkan kebersamaan keluarga karena bentuknya yang memiliki lubang-lubang kecil. Kue ini sering disajikan sebagai camilan ketika Imlek tiba, terutama di Tanah Melayu.
Itulah ragam sajian khas yang menyemarakkan Imlek di Kalimantan. Ada yang ingin Anda coba?