KabarKalteng.com, Balikpapan – Usia anak-anak dan remaja disebut sebagai golongan paling rentan mengalami stres. Pernyataan ini disampaikan oleh psikiater sekaligus Dosen Kedokteran IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc. Menurut dr Riati, kerentanan tersebut disebabkan kondisi emosional dan identitas mereka yang masih dalam tahap perkembangan.
Menurut dr Riati, ada beberapa kelompok masyarakat yang berisiko tinggi menghadapi masalah kesehatan mental. Hal ini lantaran tingginya tekanan dan perkembangan emosional yang mereka alami. Anak dan remaja, misalnya, rentan terhadap tekanan akademis, interaksi sosial, perundungan, hingga pengaruh media sosial.
Sementara itu, individu usia produktif atau pekerja juga berisiko menghadapi tekanan pekerjaan, target, persaingan, dan masalah ekonomi keluarga. Faktor-faktor ini dapat memicu stres hingga depresi. Perempuan juga dianggap lebih rentan karena pengaruh hormonal, peran ganda di rumah dan tempat kerja, serta tekanan hubungan. Masyarakat perkotaan pun berisiko tinggi akibat gaya hidup serba cepat, persaingan ketat, dan biaya hidup mahal.
Diketahui, Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, sebelumnya menyebut sekitar 28 juta warga Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Menanggapi hal itu, dr Riati menyatakan bahwa data menunjukkan jumlah orang dengan masalah kesehatan mental memang sangat besar. Namun demikian, ia menekankan angka tersebut perlu dipahami dengan cermat.
"Angka tersebut sangat bergantung pada apa yang dimaksud dengan masalah kesehatan mental dan dari tahun berapa data tersebut diambil," katanya dalam laman IPB University dikutip Sabtu (31/1/2026).
Terlepas dari definisi data tersebut, dr Riati menegaskan bahwa kesehatan mental adalah masalah serius yang dihadapi masyarakat luas. "Namun, terlepas dari definisinya, angka tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental adalah masalah serius yang dialami oleh jutaan orang di Indonesia dan membutuhkan penanganan yang lebih serius," tegasnya.
Oleh karena itu, ia menekankan upaya komprehensif untuk mencegah dan mengelola masalah kesehatan mental. Ini termasuk peran individu dalam menjaga gaya hidup sehat dan mengelola stres, serta peran keluarga dan komunitas dalam menciptakan lingkungan yang mendukung.
Selain itu, sekolah dan tempat kerja juga perlu menyediakan lingkungan yang aman. "Masyarakat diharapkan untuk mengurangi stigma, sementara pemerintah perlu memastikan bahwa layanan kesehatan mental mudah diakses dan pendidikan kesehatan mental diperluas," jelasnya.