Susu UHT Langka dan Mahal di Banjarmasin, Pengusaha Cafe Mengeluh Omzet Anjlok
TERAS BERITA
KabarKalteng.com – Kelangkaan susu Ultra High Temperature (UHT) melanda Banjarmasin, Kalimantan Selatan, membuat sejumlah pelaku usaha kuliner dan minuman mengeluh. Pasokan bahan baku utama ini semakin sulit dicari dan harganya melonjak drastis sejak Desember 2025, bahkan memicu penurunan omzet hingga perubahan resep.
ISI BERITA
Ari, Manager Produksi Kopi Feeling di Banjarmasin, mengungkapkan kelangkaan susu UHT sudah terasa sejak Desember 2025. Saat itu, pembelian yang biasanya mencapai 500 karton dibatasi menjadi hanya 200 karton.
"Sejak Desember 2025 dibatasi hanya boleh 200 karton saja," ujar Ari kepada detikKalimantan, Sabtu (4/4/2026).
Menurut Ari, kini hampir semua merek UHT sulit didapatkan di Banjarmasin, baik di toko besar maupun kecil. Ia menyebut, kebutuhan produksi kopi per hari mencapai 25 karton atau sekitar 300 liter UHT. Namun, saat ini ia hanya bisa mendapatkan 1 karton (12 liter) atau bahkan tidak sama sekali.
"Bahkan bisa tidak dapat sama sekali, jadi sekarang merk apa yang ada itu yang kita ambil. Tidak lagi memikirkan merknya," katanya.
Berdasarkan informasi dari toko langganan, Ari menduga kelangkaan ini terjadi karena susu UHT ramai diborong untuk salah satu program unggulan pemerintah. Dampaknya, bahan baku lain seperti krimer dan susu bubuk juga mulai langka karena banyak pengusaha mencari alternatif.
Perubahan resep kopi terpaksa dilakukan Ari untuk menjaga stabilitas produksi. Keputusan ini berujung pada banyaknya komplain dari pelanggan setia mengenai perubahan rasa.
"Kami melakukan perubahan pada resep, karena daripada tidak jualan, kami pikir perubahan rasa adalah solusi sepadan. Tapi ada juga komplain yang diterima itu seputar rasa yang berubah," tuturnya.
Pasca-Lebaran, Kopi Feeling merasakan penurunan omzet sekitar 30 persen. Penurunan ini disebabkan oleh pelanggan yang merasa rasa kopi tidak sama lagi dengan sebelumnya.
Keluhan serupa datang dari Dina, pemilik usaha kuliner rumahan yang menjual mango sagoo dan buko pandan. Ia mengaku kesulitan mencari susu UHT selama hampir tiga pekan terakhir. Jika ada pun, harganya sudah melonjak berkali-kali lipat dan pembelian dibatasi.
"Sangat susah sudah hampir tiga pekan, kalau ada pun harganya itu sudah mahal sekali. Pembelian juga dibatasi di beberapa toko," katanya.
Sementara ini, Dina terpaksa menunda penjualan menu yang menggunakan UHT dan hanya menjual menu lain yang bahan bakunya masih tersedia.
Di sisi lain, Amira, pemilik usaha toko di Bumi Mas Raya Banjarmasin, menjelaskan bahwa berkurangnya pasokan UHT ke tokonya disebabkan tingginya permintaan menjelang Ramadan untuk program MBG.
"Informasi yang kita dapat dari sales itu karena tingginya permintaan customer jelang Ramadan berbarengan dengan program MBG. Jadi ada beberapa pihak yang memborong stok UHT," kata Amira.
Kelangkaan ini, menurut Amira, sudah terasa sebelum Ramadan, khususnya untuk stok UHT 1 liter yang banyak digunakan UMKM. Untuk menyiasatinya, Amira memprioritaskan penjualan kepada pelanggan UMKM yang sudah berlangganan, barulah menjual secara eceran, dengan tetap membatasi pembelian karena stok terbatas.
Amira mengakui kenaikan harga jual UHT terpaksa dilakukan karena modal awal pembelian juga sudah naik. Ia sempat membeli UHT dari pihak lain dengan selisih harga modal mencapai 25-30 persen.
"Otomatis harga jual juga kita naikkan," lanjutnya.
Saat ini, permintaan stok UHT di toko Amira terus berdatangan, sementara stok sisa yang tersedia hanya 30 dus. Ia harus membagi stok tersebut kepada pelanggan lama, pelanggan baru, dan pembeli eceran. Amira berharap kelangkaan susu UHT ini dapat segera teratasi dan stok kembali tersedia di pasaran.
(aau/aau)