KabarKalteng.com, Pemerintah memprioritaskan percepatan pengembangan jaringan perkeretaapian di luar Jawa, termasuk Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Minggu (26/4) menyatakan pembangunan rel di Kalimantan akan dimulai dari nol. Proyek ini merupakan mandat langsung Presiden Prabowo Subianto untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekonomi antarwilayah.
AHY menjelaskan, pengembangan jaringan kereta api di pulau-pulau ini adalah bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) di sektor infrastruktur dan konektivitas. Menurutnya, ini adalah visi besar Presiden untuk memastikan Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi tidak tertinggal. "Dengan membangun jaringan kereta api yang terintegrasi, kita bisa menekan biaya logistik secara signifikan dan meningkatkan daya saing ekonomi antarwilayah," ujarnya.
Setiap pulau besar yang menjadi fokus proyek memiliki tantangan dan potensi yang berbeda. Khusus di Kalimantan, AHY menyebut belum ada jalur kereta api yang aktif sama sekali. Oleh karena itu, pembangunan jaringan di sana harus dimulai dari nol.
"Kalimantan bahkan belum memiliki jaringan kereta api. Ini menjadi peluang besar bagi kita untuk membangun dari awal dengan perencanaan yang lebih baik, termasuk untuk mendukung logistik dan komoditas," katanya.
Sementara itu, Pulau Sumatra setidaknya sudah memiliki jalur kereta, namun belum terintegrasi antarwilayah. Pemerintah akan memperkuat jaringan yang ada dan melakukan perluasan jalur baru. Di Sulawesi, saat ini baru ada satu jalur kereta api yang dikebut pengembangannya. Jaringan perkeretaapian di Sulawesi akan difokuskan untuk mengintegrasikan kawasan industri dan komoditas unggulan.
AHY menambahkan, saat ini masih terdapat ketimpangan besar dalam pengembangan transportasi berbasis rel di Indonesia. Perlu langkah strategis kolaboratif lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Diketahui, kontribusi angkutan penumpang kereta api baru mencapai sekitar 4% mobilitas nasional. Untuk logistik, angkutan kereta api baru menguasai sekitar 1% pasar pengiriman.
"Padahal, kereta api memiliki keunggulan sangat besar, termasuk dari sisi efisiensi dan emisi. Bahkan kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca sangat rendah, kurang dari 1%. Ini harus kita dorong sebagai bagian dari komitmen menuju net zero emission," pungkas AHY.