AS Resmi Tinggalkan WH...

AS Resmi Tinggalkan WHO, Pakar Ingatkan Dampak Buruk Keamanan Kesehatan Global

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, Amerika Serikat (AS) resmi keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (22/01), setahun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penarikan diri. Keputusan ini mengakhiri 78 tahun keterlibatan AS di WHO dan memicu kekhawatiran para pakar mengenai melemahnya keamanan kesehatan global. Trump beralasan penanganan pandemi COVID-19 yang buruk serta iuran yang dianggap tidak adil sebagai penyebabnya.

Amerika Serikat (AS) secara resmi keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (22/01). Keputusan ini diambil setahun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penghentian keikutsertaan negaranya. Penarikan diri ini mengakhiri keterlibatan AS selama 78 tahun di lembaga kesehatan global tersebut.

Sebelumnya, Trump telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada badan kesehatan PBB itu pada hari pertama masa jabatannya di tahun 2025, setelah menandatangani perintah eksekutif. Sesuai aturan, terdapat masa tunggu selama satu tahun sebelum keputusan tersebut berlaku penuh. Dalam pernyataannya, Trump menyebut alasan penarikan antara lain "penanganan pandemi COVID-19 yang buruk" dan "krisis kesehatan global lain." Dia juga menyatakan bahwa keanggotaan AS menimbulkan "pembayaran yang tidak adil dan memberatkan."

Menurut pernyataan bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. yang dipublikasikan pada Kamis (22/01), "Hari ini, Amerika Serikat telah menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan membebaskan diri dari berbagai pembatasan yang ada."

Penarikan diri AS dari WHO diketahui berlangsung tidak mulus. Pemerintah AS masih menghadapi sejumlah persoalan yang belum tuntas sejak keputusan keluar diumumkan. Berdasarkan data WHO, AS masih memiliki tunggakan iuran lebih dari 130 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,95 triliun.

AS Resmi Keluar WHO, Pakar Ingatkan Dampak Global

Namun, besaran dan status pembayaran tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian dan perbedaan pandangan antara kedua pihak. Sementara itu, seorang juru bicara WHO mengatakan negara-negara anggota dijadwalkan membahas kepergian AS serta mekanisme penanganannya dalam rapat dewan eksekutif WHO pada Februari mendatang.

Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui masih ada sejumlah isu yang belum terselesaikan. Termasuk potensi hilangnya akses Amerika Serikat terhadap data kesehatan dari negara lain, yang selama ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap munculnya pandemi baru.

Sepanjang tahun 2025, sejumlah pakar kesehatan global telah memperingatkan bahwa penarikan diri AS dari WHO dapat melemahkan kemampuan AS dan WHO dalam menangani wabah penyakit dan ancaman kesehatan global. Hal ini penting, mengingat AS merupakan penyumbang dana terbesar bagi WHO.

Lembaga kesehatan khusus PBB tersebut memiliki mandat untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan menghadapi wabah penyakit, seperti mpox, Ebola, dan polio. WHO juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara berpenghasilan rendah, membantu distribusi vaksin yang terbatas, serta menetapkan pedoman penanganan ratusan kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kanker.

Dalam setahun terakhir, banyak pakar kesehatan global mendesak agar keputusan tersebut ditinjau ulang. Seruan serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman kesehatan global.

"Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers awal bulan ini. Ia menambahkan, "Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia."

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan