KabarKalteng.com, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Timur. Penegasan ini disampaikan Tito saat meninjau Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Aceh pada Kamis (22/1), dengan fokus pada pembukaan akses dan penataan hunian pascabencana.
Menurut Tito, Desa Sahraja terdampak cukup berat akibat banjir bandang. Ia melihat langsung kondisi kerusakan parah di lokasi tersebut.
"Semua rumah di sini tidak ada satu pun yang utuh. Semuanya hancur, bahkan di atas atap sekolah, ada kayu log yang sangat besar. Di atas rumah juga ada kayu log menunjukkan tingginya apa, genangan air banjir. Semua habis dan semua mengungsi. Semuanya rusak berat, hilang," kata Tito dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).
Pemerintah pusat dan daerah terus bekerja keras secara terpadu untuk membuka kembali akses menuju wilayah terdampak. Koordinasi dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta pemerintah daerah setempat. Tujuannya agar akses jalan dapat segera dilalui kendaraan roda empat.
"Kita urus, ada Kepala BNPB mengurus juga, dan kemudian akses jalan apa pun juga, sedapat mungkin kita bisa masuk, meskipun dengan kendaraan trail untuk pengiriman logistik. Terutama yang penting sekali di samping juga bisa melalui sungai seperti tadi kita mencoba lewat sungai," terangnya.
Sementara itu, Tito menyoroti beratnya tantangan akses menuju lokasi terdampak. Hingga saat ini, diketahui masih ada wilayah di Aceh Timur yang terisolasi akibat terputusnya akses jalan.
Penyaluran logistik ke satu dusun yang dihuni 60 Kepala Keluarga (KK) hanya dapat dilakukan tiga hari sekali. Untuk mencapai permukiman warga, tim harus menyeberangi aliran sungai. "Lokasi satu dusun yang 60 (KK), kalau tidak salah. Itu di-drop tiap 3 hari sekali karena jalan daratnya tidak bisa," ujarnya.
Selain pembukaan akses, Tito juga menekankan pentingnya penataan kembali hunian warga pascabencana. Pembangunan hunian harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan keinginan masyarakat setempat. Hunian tidak boleh semata-mata diseragamkan dalam satu kawasan atau satu kompleks besar.
"Membangunkan huntara. Kalau enggak mau, langsung membangun hunian tetap ya. Rata-rata maunya di sini tidak mau satu hamparan, satu komplek, tapi mereka mau di tanahnya mereka, tempat yang lebih tinggi," jelasnya.
Tito berharap percepatan pembukaan akses dan penataan hunian yang tepat dapat mendukung pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak. Hal ini juga untuk memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
"Jadi ini salah satu fokus kita untuk Aceh Timur ini, kunjungan saya pertama dan kedua, saya melihat sudah ada kemajuan. Mentalnya Pak Bupati juga saya lihat tidak kendor. Itu yang paling penting sekali, kalau sudah pemimpinnya strong, fight, Satgas semua akan semangat," pungkasnya.