KabarKalteng.com, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tidak ada tempat bagi tentara Turki atau Qatar dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang akan dikerahkan ke Jalur Gaza setelah perang berakhir. Pernyataan ini disampaikan Netanyahu di hadapan parlemen Israel pada Senin (19/1) waktu setempat, sekaligus menegaskan kembali keberatan Tel Aviv terhadap komposisi panel penasihat Gaza yang didukung Amerika Serikat (AS).
Penolakan Netanyahu ini berkaitan dengan 20 poin rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Gaza. Gedung Putih pekan lalu mengumumkan pembentukan "Dewan Perdamaian" yang diketuai Trump, komite teknokrat Palestina, "Dewan Eksekutif Gaza" sebagai penasihat, serta Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza. ISF akan menjaga keamanan dan melatih kepolisian baru di wilayah kantong Palestina itu usai perang.
Netanyahu diketahui sebelumnya telah menyatakan keberatan terhadap susunan "Dewan Eksekutif Gaza". Dewan tersebut menyertakan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan diplomat veteran Qatar Ali Al-Thawadi. Dalam pernyataan terbaru yang dilansir AFP, Selasa (20/1/2026), Netanyahu kembali menegaskan keberatan Israel terhadap potensi keterlibatan Turki dan Qatar dalam ISF.
"Di Jalur Gaza, kita berada di ambang fase kedua dari rencana Trump," kata Netanyahu saat berbicara di hadapan parlemen Israel pada Senin (19/1). Ia melanjutkan, "Fase kedua berarti satu hal sederhana: Hamas akan dilucuti senjatanya dan Gaza akan didemiliterisasi. Tidak akan ada tentara Turki atau Qatar di Jalur Gaza."
Sejauh ini, kontingen negara mana saja yang akan membentuk ISF belum dipastikan. Trump pada Jumat (16/1) lalu mengumumkan, Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers ditunjuk sebagai Komandan ISF untuk Gaza. Jeffers sebelumnya berperan dalam memimpin gencatan senjata Lebanon-Israel tahun lalu.
Netanyahu juga menyebut adanya perbedaan pendapat dengan AS terkait komposisi dewan penasihat Gaza. Otoritas Israel tidak menjelaskan secara rinci alasan keberatannya itu. Namun, diketahui bahwa Tel Aviv sangat keberatan dengan peran Turki di Gaza pascaperang, seiring memburuknya hubungan kedua negara sejak perang Gaza dimulai Oktober 2023.