KabarKalteng.com, Motoris longboat di pedalaman Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi urat nadi perekonomian utama bagi masyarakat tapal batas Bahau dan Pujungan. Mereka bertaruh nyawa menaklukkan sungai ganas untuk mengangkut kebutuhan pokok, barang besar, hingga penumpang, demi memastikan konektivitas wilayah tersebut, seperti diungkap Sabtu (14/3/2026).
Di pedalaman Kaltara, perekonomian bergantung pada pusaran arus sungai yang ganas, bukan jalan aspal mulus. Para motoris longboat mengambil peran penting sebagai pejuang konektivitas. Mereka memastikan kehidupan masyarakat di wilayah tapal batas tetap berjalan.
Menurut konten kreator Roni Manan, armada longboat sangat vital bagi masyarakat Bahau dan Pujungan. Hampir semua kebutuhan di daerah tersebut diangkut menggunakan longboat. "Sebenarnya banyak dan hampir semua kebutuhan di daerah Bahau dan Pujungan diangkut menggunakan longboat. Terutama barang-barang yang tidak bisa dibawa menggunakan pesawat karena kapasitas pesawat tidak memadai untuk ukuran besar," ungkap Roni kepada detikKalimantan, Sabtu (14/3/2026).
Rute sungai yang membelah pedalaman dari Long Alango menuju Tanjung Selor menjadi saksi bisu berbagai muatan. Bagi para motoris, perahu kayu memanjang itu adalah kapal kargo serbaguna. Muatan yang diangkut sangat beragam, bahkan jenazah.
"Kalau mobil atau motor, itu dihitung per unit. Kisaran Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta. Kalau barang kebutuhan umum, ongkosnya tergantung jenis, biasanya Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram," jelas Roni.
Sementara itu, untuk tarif penumpang, diketahui bervariasi. Jika mendapatkan tiket subsidi, penumpang cukup membayar Rp 400 ribu. Namun, untuk tarif reguler, harganya melonjak tajam hingga Rp 1,3 juta.

Perjalanan membelah sungai ini sepenuhnya tunduk pada hukum alam. Waktu tempuh sangat bergantung pada debit air. Jika air sedang banjir atau pasang, perjalanan turun dari Long Alango ke Tanjung Selor bisa ditempuh dalam satu hari dengan mengikuti arus.
Sebaliknya, perjalanan mudik ke Long Alango memakan waktu paling cepat dua hari. Kondisi berubah drastis saat kemarau tiba. Saat air surut, perjalanan bisa memakan waktu hingga satu minggu. "Tak jarang, longboat tidak bisa beroperasi sama sekali dari Long Alango dan hanya bisa bertolak dari Long Pujungan," tutur Roni.
Dalam rute yang panjang itu, ancaman maut selalu mengintai di balik jeram-jeram sungai yang berbatu. Roni, yang kadang iseng mencoba memegang kemudi mesin, mengaku hanya berani melakukannya di rute air tenang tanpa jeram.
Tanggung jawab besar motoris adalah keselamatan penumpang. Mereka sangat rentan sekali karena harus melewati jeram-jeram. "Kalau penumpang masih bisa jalan kaki di pinggir sungai saat di jeram, tapi motoris harus siap di atas perahu melewati jeram itu. Kalau perahu oleng, mereka akan berbuat semampunya untuk menyelamatkan perahu menepi," tutur Roni.
Meskipun bertaruh nyawa, tidak ada syarat pendidikan khusus untuk menjadi motoris. Semua murni terbentuk dari nyali dan pengalaman lapangan bertahun-tahun. Dalam satu longboat, biasanya terdapat lima orang awak.
Kunci keselamatan berada di tangan 1-2 orang yang berada di bagian kiri dan kanan perahu. Merekalah sang navigator sejati. "Mereka yang harus hafal jalur dan ambil keputusan sepersekian detik saat melewati jeram. Perhitungan muatan juga mereka yang tentukan agar tidak melebihi batas. Jadi motoris itu berisiko, tapi ini soal pekerjaan dan memastikan kebutuhan di sini (tapal batas) tetap ada," tambah Roni.
Sebagai masyarakat yang hidupnya sangat bergantung pada jalur sungai yang ekstrem, Roni menyimpan harapan besar. Dia berharap adanya pemerataan pembangunan infrastruktur, terutama akses darat. "Mungkin (bertahan jadi motoris) sampai ada akses darat. Kalau bisa, kami tidak lagi melewati jalur sungai ini karena sangat berisiko. Kami berharap Pak Presiden bisa memperhatikan infrastruktur jalan di daerah kami, agar masyarakat tidak harus terus bertaruh nyawa saat melewati jalur sungai," pungkasnya penuh harap.