KabarKalteng.com – Satgas Pangan Polresta Samarinda bersama Perum Bulog menyalurkan bantuan logistik bahan pokok ke Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, pada Senin (9/2/2026). Langkah ini diambil untuk mengatasi kelangkaan serta melambungnya harga kebutuhan pokok di wilayah tersebut, yang sebelumnya viral di media sosial akibat permasalahan BBM pada kapal angkut.
Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Agus Setyawan, menjelaskan pengiriman melibatkan Dirreskrimsus Polda Kaltim, Badan Pangan Nasional, dan dinas terkait. Pihaknya mengirimkan 1.950 kilogram atau 1,9 ton beras dari Perum Bulog. Penyaluran ini dilakukan untuk memastikan distribusi bahan pangan berjalan aman, lancar, dan tepat sasaran.
"Selain beras logistik memuat bahan pokok penting lainnya, seperti minyak goreng berbagai merk sebanyak 2.040 liter, gula pasir seberat 740 kilogram, serta garam masak sebanyak 23 pak," ujar Kompol Agus kepada awak media. Distribusi ini diharapkan membantu pemenuhan kebutuhan warga Mahulu agar memperoleh bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengawalan program pemerintah dalam penyaluran pangan murah seperti SPHP dan Minyakita. Menurut Kompol Agus, hal ini merupakan bagian dari agenda Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Tahun 2026 yang berjalan berjenjang mulai dari tingkat pusat sampai kabupaten/kota.
"Pengawalan distribusi bahan pangan ini merupakan bentuk komitmen Polresta Samarinda dalam mendukung program pemerintah serta memastikan masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga yang wajar, mutu yang baik, dan distribusi yang tepat sasaran," pungkasnya.
Sementara itu, Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Kaltim-Kaltara, Musazdin Said, menjelaskan pengiriman logistik ke Mahulu merupakan tindak lanjut arahan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Langkah ini diambil setelah muncul informasi harga beras di wilayah tersebut sempat menembus Rp 1 juta per karung.
"Bulog sesuai penugasan negara menguasai komoditas beras dan minyak goreng, termasuk Minyakita. Maka kami diminta melakukan distribusi ke Mahulu," ujar Musazdin. Untuk tahap awal, intervensi dilakukan dengan menyiapkan sekitar 3,2 ton komoditas.
Komoditas tersebut didominasi beras premium, Minyakita, serta beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Musazdin mengakui distribusi sempat menghadapi kendala karena jalur sungai belum bisa dilalui. Namun, pengiriman akhirnya dialihkan lewat jalur darat.
"Memang ada informasi kapal belum bisa menuju Mahulu. Tapi kami tidak patah semangat, Alhamdulillah bisa dapat armada lewat jalan darat," kata Musazdin. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar dua hingga tiga hari dari Samarinda menuju Kutai Barat, kemudian melalui ruas Melak hingga Ujoh Bilang yang saat ini masih dalam proses pembangunan.
Bulog berharap setibanya di Mahulu, pemerintah kabupaten dapat segera menggelar pasar murah maupun bazar menjelang Ramadan. Ini guna membantu masyarakat yang terdampak tingginya harga bahan pokok.
"Untuk beras SPHP, mekanismenya adalah penjualan langsung ke masyarakat. Dalam kondisi normal, distribusi sekitar dua ton biasanya habis dalam dua sampai tiga pekan," tutur Musazdin. Namun, beras premium tingkat serapannya cenderung lebih cepat karena menjadi pilihan utama warga.
Selain itu, terdapat pula bantuan pangan pemerintah bagi penerima bantuan pangan (PBP) yang datanya sudah ditetapkan. Komoditas tersebut berasal dari cadangan beras pemerintah yang dikuasai Bulog.
Terkait harga, Bulog memastikan penjualan mengikuti ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) dari Bapanas. Beras premium dipatok Rp 15.400 per kilogram, SPHP Rp 13.100 per kilogram atau sekitar Rp 65.500 per kemasan 5 kilogram, serta Minyakita maksimal Rp 15.700 per liter.
Adapun stok beras yang dikuasai Bulog di Samarinda dipastikan aman. Saat ini cadangan beras pemerintah tercatat sekitar 7.600 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga empat sampai lima bulan ke depan. Cabang Samarinda sendiri memiliki wilayah layanan yang luas, mencakup dua kota dan empat kabupaten, yakni Samarinda, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, hingga Mahakam Ulu.