KabarKalteng.com, Pasukan Israel mengerahkan buldoser untuk menghancurkan bangunan di markas besar UNRWA, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, di Yerusalem Timur. Insiden ini terjadi pada Selasa (20/1) pagi. PBB mengutuk keras tindakan tersebut dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Israel segera menghentikan pembongkaran pada Rabu (21/1/2026).
Dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (21/1/2026), Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa UNRWA adalah wilayah yang kebal dan tidak bisa diganggu gugat. Ia meminta Israel untuk segera menghentikan pengerahan buldoser ke markas tersebut.
Juru bicara Guterres, Farhan Haq, menyatakan bahwa Sekretaris Jenderal mendesak pemerintah Israel untuk segera menghentikan pembongkaran kompleks UNRWA Sheikh Jarrah. "Ia juga mendesak untuk mengembalikan serta memulihkan kompleks tersebut dan tempat-tempat UNRWA lainnya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa tanpa penundaan," kata Haq kepada wartawan.
Sementara itu, juru bicara UNRWA Jonathan Fowler menjelaskan kronologi insiden tersebut. Berdasarkan keterangannya kepada AFP, Selasa (20/1), pasukan Israel "menyerbu" kompleks UNRWA pada pagi hari, tak lama setelah pukul 07.00 waktu setempat.
Pasukan Israel diketahui mengusir para penjaga keamanan dari kompleks itu. Setelah itu, sejumlah buldoser datang dan mulai menghancurkan bangunan-bangunan di dalam kompleks.
Fowler mengutuk keras tindakan tersebut. Ia menyebut, "Ini merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap UNRWA dan bangunannya. Dan hal ini juga merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan hak istimewa serta kekebalan Perserikatan Bangsa-Bangsa."
Lebih lanjut, Fowler menambahkan, "Ini seharusnya menjadi peringatan. Apa yang terjadi hari ini pada UNRWA dapat terjadi besok pada organisasi-organisasi internasional atau misi diplomatik lainnya di seluruh dunia."
Foto-foto yang dipublikasikan AFP menunjukkan beberapa alat berat merobohkan bangunan di kompleks UNRWA Yerusalem Timur. Bendera Israel terlihat berkibar di atasnya.
Seorang fotografer AFP melaporkan bahwa Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, sempat melakukan kunjungan singkat ke lokasi. Ben Gvir dalam pernyataannya menyebut hari itu sebagai "hari bersejarah, hari perayaan, dan hari yang sangat penting bagi pemerintahan di Yerusalem."
Ia juga menambahkan, "Selama bertahun-tahun, para pendukung terorisme ini berada di sini, dan hari ini mereka disingkirkan dari sini bersama dengan semuanya yang telah mereka bangun di tempat ini. Inilah yang akan terjadi pada setiap pendukung terorisme."
Israel sendiri berulang kali menuduh UNRWA memberikan perlindungan kepada militan Hamas. Mereka mengklaim beberapa staf UNRWA terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober lalu yang memicu perang Gaza.