Burung Enggang: Satwa ...

Burung Enggang: Satwa Dihormati dan ‘Dikeramatkan’ Suku Dayak Kalimantan

Ukuran Teks:

Balikpapan – Burung enggang merupakan satwa yang sangat dihormati, bahkan ‘dikeramatkan’ oleh suku Dayak di Kalimantan. Satwa ini menjadi simbol leluhur dan dijuluki ‘Panglima Burung’, dengan wujudnya familiar pada motif pakaian, ornamen bangunan, hingga gerakan tari. Selain itu, kelestarian burung enggang juga dijaga masyarakat karena kini populasinya hampir punah.

Burung enggang habitatnya di hutan hujan tropis Kalimantan. Suara kepakan sayapnya yang berat dan keras, menyerupai gonggongan, sering terdengar dari balik pepohonan raksasa. Masyarakat Dayak menjaga kelestarian burung ini karena merupakan simbol leluhur mereka.

Burung enggang memiliki beberapa nama lokal, seperti rangkong di Indonesia, kenyalang dalam bahasa Iban, tingang dalam bahasa Ngaju, kokomo di Papua, dan hornbills dalam bahasa Inggris. Berdasarkan Animal Biodiversity, ada puluhan jenis burung enggang di dunia yang masuk dalam famili Bucerotidae. Di dalamnya terdapat genus Anorrhinus, Anthracoceros, Buceros, Rhinoplax, dan Rhyticeros.

Menurut situs Rangkong Indonesia, terdapat 13 jenis rangkong di Indonesia, dan Kalimantan menjadi salah satu habitat utamanya. Beberapa spesies kunci yang perlu diketahui meliputi Enggang Gading, Enggang Cula, Kangkareng Hitam, dan Julang Jambul Hitam.

Enggang Gading (Rhinoplax vigil) merupakan maskot Kalimantan Barat. Burung ini unik karena memiliki balung (casque) padat berisi keratin, berbeda dengan jenis lain yang balungnya berongga. Balung merahnya sering memicu perburuan liar untuk dijadikan ‘gading merah’.

Enggang Cula (Buceros rhinoceros), atau rhinoceros hornbill, memiliki balung melengkung ke atas menyerupai cula badak. Bagi masyarakat Dayak Iban, burung ini disebut kenyalang dan dianggap sebagai burung duniawi tertinggi. Diketahui, terdapat subspesies endemik Kalimantan bernama Buceros rhinoceros borneoensis yang cirinya memiliki balung lebih pendek namun lengkungannya lebih lebar dibanding kerabatnya di Sumatera.

Sementara itu, Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus) adalah jenis enggang yang lebih kecil dengan bulu dominan hitam. Mereka sering ditemukan di hutan dataran rendah dan rawa. Sedangkan Julang Jambul Hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus) berciri khas kantung leher berwarna cerah dan jambul kusut.

Secara ekologis, peran burung enggang sangat vital sebagai "petani hutan". Kemampuan jelajah terbangnya bisa mencapai 100.000 hektare.

Berdasarkan jurnal Makna Mitos Cerita Burung Enggang di Kalimantan Timur oleh Irma Surayya Hanum dan Dahri Dahlan, burung enggang disakralkan karena berkaitan dengan kisah nenek moyang masyarakat Dayak Kenyah. Nenek moyang mereka diyakini berasal dari langit dan turun ke bumi dalam wujud menyerupai burung enggang, sehingga memiliki hubungan darah langsung dengan leluhur. Bagi Dayak Iban, enggang juga dianggap representasi dari Sengalang Burong, dewa perang sekaligus leluhur mistis mereka.

Salah satu cerita rakyat Dayak mengisahkan tokoh Kirai yang menemukan seekor enggang terjerat atau dalam kesulitan. Alih-alih membunuhnya, Kirai membebaskan burung tersebut. Burung ini ternyata adalah roh luhur yang sebagai ungkapan terima kasih, memberikan sebutir biji kepada Kirai. Biji tersebut, ketika ditanam, tumbuh menjadi tanaman pangan utama yang menghidupi seluruh masyarakat.

Bagi suku Dayak, Enggang bukan sekadar satwa, melainkan representasi nilai-nilai luhur kehidupan. Enggang gading, khususnya, sering disebut sebagai Panglima Burung. Makna filosofis di balik atribut fisiknya tidak dijelaskan secara rinci dalam informasi ini.

Sangat menyedihkan, salah satu jenis burung enggang, Enggang Gading, kini berada di ambang kepunahan dengan status Kritis (Critically Endangered) dalam daftar IUCN. Ancaman terbesarnya adalah perburuan liar untuk diambil balungnya atau ‘gading merah’ yang harganya sangat mahal di pasar gelap internasional. Hilangnya pohon-pohon besar tempat mereka bersarang akibat deforestasi juga menjadi ancaman besar.

Sementara itu, jenis enggang lainnya juga termasuk satwa dilindungi. Status konservasinya vulnerable alias rentan, seperti enggang cula dan enggang julang emas.

(bai/aau)

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan