KabarKalteng.com, Bukit Kelam, sebuah bongkahan batu monolit raksasa di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dikenal sebagai salah satu monolit tertinggi di dunia. Berjarak sekitar 20-23 kilometer dari pusat Kota Sintang, batu utuh ini menjulang 1.002 meter di atas permukaan laut dan menjadi daya tarik unik di tengah hamparan hutan tropis Kalimantan.
Bukit Kelam membentang memanjang dari barat ke timur sepanjang sekitar 2-3 kilometer. Dari kejauhan, bukit ini tampak seperti batu hitam raksasa di tengah hamparan hutan hijau dan persawahan. Meskipun dinamakan bukit, Bukit Kelam sejatinya adalah batu monolit, yakni bongkahan batu tunggal raksasa yang muncul ke permukaan bumi, bukan terbentuk dari tumpukan tanah atau bebatuan.
Monolit ini memiliki ketinggian sekitar 1.002 meter di atas permukaan laut dengan luas kawasan mencapai kurang lebih 520 hektare. Selama ini, Uluru atau Ayers Rock di Australia dikenal sebagai monolit paling terkenal di dunia.
Menurut Guinness Books of Records, Uluru adalah monolit terbesar karena volume batuan tunggalnya yang sangat besar, dengan panjang sekitar 3,6 kilometer dan keliling pangkalan mencapai 9,4 kilometer. Namun, predikat terbesar dapat berbeda tergantung cara pengukurannya.
Jika dilihat dari ketinggiannya, Bukit Kelam jauh lebih unggul. Bukit Kelam menjulang sekitar 950 meter dari permukaan tanah di sekitarnya, sedangkan Uluru hanya naik sekitar 348 meter dari dataran sekelilingnya, meskipun tingginya 863 mdpl. Oleh karena itu, beberapa sumber menyatakan Bukit Kelam sebagai monolit tertinggi di dunia dan masuk dalam jajaran monolit terbesar di dunia bersama Uluru, Zuma Rock di Nigeria, dan Sugarloaf Mountain di Brazil.

Secara geologis, Bukit Kelam diperkirakan terbentuk puluhan juta tahun lalu. Menurut penjelasan di laman Universitas Ciputra, bukit ini berasal dari intrusi batuan beku atau magma yang membeku di bawah permukaan bumi. Seiring waktu, lapisan tanah dan batuan yang menutupi bagian atasnya terkikis oleh erosi selama jutaan tahun, menyebabkan bongkahan batu raksasa ini muncul ke permukaan.
Batuan utama penyusun Bukit Kelam adalah granit dan andesit, yang menyebabkan permukaannya berwarna gelap dan keras. Lokasi Bukit Kelam juga berbeda dari monolit lain di dunia; jika Uluru berada di tengah gurun, Bukit Kelam justru terletak di tengah hutan hujan tropis Kalimantan. Bukit ini diapit oleh dua sungai besar, Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, sehingga dapat terlihat dari berbagai penjuru Sintang, termasuk dari jalur Sungai Kapuas.
Selain keunikan geologisnya, Bukit Kelam juga menjadi habitat bagi flora langka dan endemik. Kawasan ini melindungi setidaknya 14 spesies kantong semar yang tumbuh di lereng, celah batu, hingga tebing granit vertikal.
Salah satu yang paling spesial adalah Nepenthes clipeata, spesies endemik yang hanya tumbuh di tebing-tebing curam Bukit Kelam. Karena habitatnya yang ekstrem, kantong semar ini menjadi salah satu jenis kantong semar paling terancam punah di dunia.
Masyarakat Sintang memiliki cerita rakyat tersendiri tentang asal-usul Bukit Kelam. Menurut legenda, dahulu ada seorang sakti bernama Bujang Beji yang berniat membendung Sungai Kapuas dan Sungai Melawi menggunakan batu raksasa agar dapat menangkap ikan sendiri. Namun, di tengah perjalanan, Bujang Beji terjatuh setelah terkena godaan atau tertusuk duri, menyebabkan batu raksasa yang dipikulnya jatuh dan menjadi Bukit Kelam. Nama ‘kelam’ sering dihubungkan dengan arti gelap atau jatuh, sesuai dengan warnanya yang gelap.
Simak Video "Menyaksikan Proses Pembuatan Tato Bunga Terung di Kalimantan Barat"
[Gambas:Video 20detik]