Pendatang Baru Wajib H...

Pendatang Baru Wajib Hormat di Gunung Hormat Kaltara, Hindari Sakit Perut

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, Malinau – Pendatang baru yang menyusuri pedalaman Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya di wilayah Malinau, wajib mengikuti tradisi unik. Mereka harus memberi hormat kepada sebuah gunung di Desa Long Aran, Pujungan, atau disebut akan mengalami sakit perut. Tradisi ini diceritakan kreator konten lokal Roni Manan sebagai upaya ice breaking agar tidak tegang menghadapi jeram Sungai Bahau.

Menurut Roni, keharusan menghormati gunung ini sebenarnya bukan ritual mistis. Ini lebih sebagai candaan atau ice breaking agar penumpang tidak terlalu tegang saat melewati ganasnya jeram Sungai Bahau.

Roni, yang aktif mendokumentasikan kondisi perbatasan, menjelaskan bahwa mitos sakit perut jika tidak hormat hanyalah kebiasaan untuk mencairkan suasana. "Kalau itu sebenarnya hanya tradisi yang bisa dikatakan mitos, agar saat perjalanan tidak terlalu tegang," ungkap Roni kepada detikKalimantan, Sabtu (7/3/2026). Ia menambahkan bahwa kebiasaan ini sudah menjadi candaan saja.

Ritual ini berlaku di gunung yang terletak di Desa Long Aran, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau. Para motoris perahu panjang biasanya akan menurunkan kecepatan mesin saat mendekati gunung, lalu menginstruksikan penumpang baru untuk memberi gestur hormat.

Setelah memberikan penghormatan, penumpang diwajibkan mencuci muka dengan air dari aliran Sungai Bahau. Ritual ini dilakukan tepat setelah melewati jeram baru pertama, sebelum menghadapi banyak jeram menantang lain di bagian hulu.

Tradisi Unik di Gunung Hormat Kaltara, Pendatang Baru Wajib Hormat

Masyarakat setempat memiliki beberapa sebutan untuk gunung ini, yaitu Gunung Hormat, Gunung Gundul, dan Gunung Sungai Lasuq. Nama Gunung Hormat populer sejak Roni masih kecil.

Penamaan Gunung Sungai Lasuq berasal dari anak sungai kecil di bawah gunung yang airnya panas. Dalam bahasa Dayak Kenyah, ‘Lasuq’ berarti ‘tersiram air panas’.

Gunung ini bukan destinasi wisata pendakian karena lokasinya terpencil, jauh dari desa, dan biaya transportasi sungai yang mahal. Meski demikian, seorang warga negara asing dari Korea pernah berhasil mendaki gunung ini. Roni menceritakan, orang Korea tersebut bahkan mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung, meski waktu kejadiannya tidak jelas.

Pemandangan eksotis Gunung Hormat dan derasnya jeram Sungai Bahau terancam tidak bertahan selamanya. Roni menyebut ada proyek bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Bahau yang rencananya akan dibangun di bagian hilir.

"Bisa jadi nanti setelah bendungan PLTA Sungai Bahau dibangun, gunung ini kemungkinan tidak (terlihat) seperti ini lagi," pungkas Roni.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan