KabarKalteng.com, Minggu (15/3/2026) – Tradisi silaturahmi pada hari pertama Idul Fitri di kampung halaman kerap menghadirkan momen canggung bagi anak muda. Obrolan santai yang memperbarui kabar seringkali berujung pada deretan pertanyaan personal, bahkan perbandingan, yang membuat mereka merasa tertekan. Situasi ini dialami Fikri (24) di Yogyakarta dan Salwa Umiatik (24) di Semarang.
Fikri, seorang aktivis lembaga bantuan hukum di Yogyakarta, mengaku sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut setiap kali pulang kampung saat Lebaran. Ia hampir selalu mendapat pertanyaan tentang kehidupannya di rantau, mulai dari kabar umum hingga perkembangan hidup.
Menurut Fikri, percakapan sering berlanjut pada pertanyaan pekerjaan, seperti "sudah bekerja?", "di mana?", dan "bagaimana kondisi hidupnya?". Hal yang paling membuat tidak nyaman adalah ketika obrolan bergeser menjadi perbandingan dengan anggota keluarga atau orang lain.
"Kadang juga dibandingkan dengan orang lain, misalnya anak mereka atau saudara lain yang katanya gajinya segini," kata Fikri. Perbandingan ini, menurutnya, mengubah suasana ringan menjadi sedikit menekan.

Ia merasa kehidupan seseorang kerap diukur dari penghasilan atau kemapanan pekerjaan. Padahal, setiap orang memiliki jalannya masing-masing.
Situasi ini diperparah bagi perantau, terutama mereka yang kuliah di Jawa. Di daerah asalnya, merantau dianggap prestisius dan identik dengan peluang hidup yang lebih menjanjikan.
"Seolah-olah yang merantau itu pasti hidupnya lebih ‘wah’, padahal sebenarnya tidak selalu begitu," ujarnya. Fikri menyoroti bahwa kenyataan di kota besar tidak selalu sejalan dengan harapan tersebut.
Ia menggambarkan persaingan di kota besar jauh lebih keras dari yang dibayangkan. "Ada pepatah yang bilang ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri," kata Fikri, menambahkan bahwa ungkapan itu ada benarnya.
Berdasarkan pengalamannya, jumlah lulusan universitas di kota besar sangat banyak dengan kualifikasi serupa. Gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan pekerjaan stabil, sementara biaya hidup tinggi menambah tekanan. "Kalau tidak kuat, bisa tergilas oleh persaingan," jelasnya.

Gambaran kehidupan di kota, menurut Fikri, sering terlihat sederhana di mata orang kampung. Ada anggapan bahwa kecerdasan akademik seharusnya sejalan dengan keberhasilan ekonomi, sehingga ekspektasi terhadap perantau yang pintar otomatis lebih mapan.
Fikri mengakui, rasa tidak nyaman ini baru muncul setelah lulus kuliah. Saat sekolah atau awal kuliah, pertanyaan keluarga terasa biasa. Namun, ekspektasi meningkat setelah ia menyandang gelar sarjana.
Meskipun demikian, Fikri tidak memiliki strategi khusus untuk menghindari pertanyaan. Ia memilih menjawab apa adanya tentang kehidupannya. "Aku juga tidak pandai berbohong, jadi jawab saja kondisi sebenarnya di rantau," katanya.
Apabila percakapan mulai menghakimi atau membandingkan, ia mencoba mengalihkan situasi. Fikri biasanya menanggapi dengan tertawa atau jawaban singkat agar obrolan tidak berkembang lebih jauh. Jika benar-benar tidak nyaman, ia mencari alasan untuk pergi, seperti membantu pekerjaan rumah.
Pengalaman serupa juga dirasakan Salwa Umiatik (24), seorang karyawan swasta di Semarang. Dalam setiap pertemuan keluarga Lebaran, ia kerap mendengar pertanyaan yang sama berulang kali dari orang berbeda.

Pertanyaan itu biasanya berkisar pada tahapan hidup penting seperti pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan. "Jujur kadang agak kurang nyaman juga, karena pertanyaannya cukup personal dan sering ditanyakan berkali-kali oleh orang yang berbeda," ungkap Salwa.
Salwa memilih menghadapi percakapan tersebut dengan sederhana. Ia menjawab seperlunya tanpa penjelasan panjang, sering menggunakan jawaban seperti "masih proses" atau "sedang dijalani pelan-pelan" untuk menjaga obrolan tetap ringan. Ia juga menambahkan humor agar suasana tidak kaku.
Dulu, pertanyaan muncul sejak masa kuliah tentang kapan lulus. Setelah lulus, bergeser ke pekerjaan, lalu perlahan merambah ke topik pernikahan.
Perubahan topik ini, menurut Salwa, berkaitan dengan cara pandang generasi yang lebih tua. "Generasi yang lebih tua mungkin melihat pekerjaan atau pernikahan sebagai tahap penting dalam hidup," jelasnya. Pekerjaan dipandang sebagai tanda kemandirian ekonomi, dan pernikahan sebagai tanda kemapanan.
Sementara itu, cara pandang anak muda terhadap kehidupan pribadi mulai berubah. Menurut Fikri, banyak yang melihat hidup sebagai perjalanan personal dan tidak perlu dibandingkan. "Sekarang kehidupan orang lebih privat," katanya.

Dalam pandangan anak muda, hidup bukan perlombaan, melainkan proses berkembang dengan ritme masing-masing. Oleh karena itu, percakapan yang membawa unsur perbandingan bisa terasa bertentangan.
Namun, bagi sebagian orang tua, pertanyaan itu mungkin bukan dimaksudkan sebagai tekanan. Salwa melihatnya sebagai bagian dari kebiasaan lama saat keluarga berkumpul. "Ketika orang lama tidak bertemu, pertanyaan tentang kehidupan pribadi sering jadi cara paling mudah untuk memulai percakapan," kata Salwa.
Sebagian besar percakapan itu, menurutnya, juga tidak berlangsung lama. Setelah satu atau dua pertanyaan dijawab, obrolan biasanya bergeser ke topik lain, seperti makanan atau cerita masa kecil.
"Biasanya pertanyaan seperti itu muncul sebentar lalu lewat begitu saja dalam obrolan biasa," tambah Salwa. Kendati demikian, pertanyaan-pertanyaan klise itu tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari silaturahmi Lebaran setiap tahun.