Patung Sapundu: Pilar ...

Patung Sapundu: Pilar Utama Ritual Kematian Tiwah Masyarakat Dayak

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, – Patung Sapundu menjadi elemen sakral dan memiliki peran sentral dalam ritual kematian Tiwah masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan di Kalimantan Tengah. Patung ini berfungsi utama sebagai tiang pengikat hewan kurban, seperti kerbau, sapi, atau babi, yang dipersembahkan untuk mengantarkan roh orang meninggal menuju alam baka. Keberadaannya sangat dihormati dan menjadi simbol penghubung antara dunia manusia dan dunia roh.

Patung Sapundu berbeda dengan hampatung karuhei atau penyang, karena memiliki fungsi sangat penting dalam ritual adat Dayak. Dalam tradisi Kaharingan, patung ini digunakan pada upacara Tiwah, ritual kematian untuk mengantar roh ke alam baka. Kedudukannya istimewa karena langsung terlibat dalam prosesi adat.

Menurut penelitian berjudul "Fungsi Sapundu pada Ritual Tiwah di Desa Tumbang Malahoi", fungsi utama patung ini adalah sebagai tiang pengikat hewan kurban. Hewan seperti kerbau, sapi, atau babi diikatkan pada sapundu sebelum disembelih sebagai persembahan. Patung Sapundu diketahui berperan sebagai simbol penghubung dunia manusia dan roh leluhur.

Setelah upacara Tiwah selesai, patung sapundu biasanya tidak dibuang. Patung tersebut akan diletakkan di depan rumah keluarga atau bangunan sandung, ditanam agar berdiri tegak. Penempatan ini menjadi penanda bahwa keluarga telah melaksanakan Tiwah bagi anggotanya.

Dari segi ukuran, patung sapundu tergolong besar, berbeda dengan hampatung karuhei atau penyang yang ukurannya kecil. Umumnya, tingginya mencapai lebih dari dua meter. Jika ditemukan sapundu yang lebih pendek, diperkirakan bagian bawahnya telah terpotong.

Patung Sapundu dan Fungsinya dalam Ritual Kematian Tiwah Masyarakat Dayak

Beberapa koleksi patung sapundu dapat ditemukan di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga. Museum ini diketahui menyimpan patung yang utuh maupun tidak, bahkan sebagian diperkirakan berusia ratusan tahun. Di sana, terdapat patung sapundu berbahan kayu ulin hitam natural bermotif tokoh masyarakat berpakaian lengkap, meski kaki kirinya rusak.

Ada pula patung bermotif perempuan yang pernah dicat putih, tetapi warnanya telah memudar. Sementara itu, patung bermotif laki-laki yang bagian kepalanya hilang dan tubuhnya pecah, juga diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Pengerjaan sapundu cenderung sederhana karena dibuat untuk kepentingan ritual dalam waktu terbatas. Fokus utamanya adalah pada fungsi, bukan pada detail rumit.

Mengutip dari "Sekilas Koleksi Hampatung di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga", pembuatan patung sapundu tidak dilakukan secara sembarangan. Terdapat aturan khusus yang harus dipatuhi para pemahat, terutama terkait motif dan jenis kelamin hewan kurban. Sebelum pemahatan dimulai, pihak keluarga biasanya sudah memberitahukan jenis hewan kurban yang akan digunakan. Informasi ini kemudian menjadi acuan bagi pemahat dalam menentukan motif patung.

Hal menarik dari patung sapundu adalah penggambaran sosok manusia yang hampir selalu sopan. Tokoh-tokoh dipahat tanpa menonjolkan unsur senonoh dan banyak digambarkan mengenakan pakaian adat lengkap. Di beberapa daerah, seperti Bangkal, Kabupaten Kotawaringin Timur, bahkan ditemukan sapundu yang menggambarkan tokoh berseragam kolonial Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa sapundu juga merekam jejak sejarah masyarakat setempat.

Penggambaran busana tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal, sekaligus menghargai status sosialnya semasa hidup. Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian, termasuk penelitian tentang fungsi sapundu di Desa Tumbang Malahoi, patung ini disimpulkan sebagai simbol penghormatan tertinggi kepada yang telah wafat. Bukan hanya sebagai bentuk kesenian, patung ini juga memiliki fungsi penting dalam tradisi Dayak di Kalimantan Tengah.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan