Kilang Balikpapan Bero...

Kilang Balikpapan Beroperasi, RI Diyakini Bisa Setop Impor Solar Tahun Ini

Ukuran Teks:

KabarKalteng.com, Indonesia dipastikan akan menghentikan impor solar jenis CN48 dan CN51, dengan target penuh pada tahun 2026 dan sebagian mulai tahun ini. Kebijakan ini didorong beroperasinya kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan yang meningkatkan produksi solar dalam negeri, demikian disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan Indonesia saat ini masih mengimpor lebih dari 4 juta kiloliter (KL) solar untuk menutupi kebutuhan domestik. Sementara itu, produksi solar dalam negeri saat ini mencapai 19 juta KL.

Menurut Laode, dengan peresmian RDMP Balikpapan pada tahun 2026, akan ada tambahan produksi sebanyak 7 juta KL solar. Ini akan sepenuhnya menutupi kebutuhan impor dan bahkan menciptakan surplus. "Total 19 juta KL dihasilkan dalam negeri, kita masih mengimpor lebih dari 4 juta KL. Tahun 2026 ini diresmikan RDMP akan ada sebanyak 7 juta KL tambahannya, berarti tertutupi lah. Surplus berarti 7 juta KL dikurangi 4 sekian juta KL impor kita. Jadi ada sisa sekitar 1,6 sampai 1,7 juta KL," ujar Laode dalam Podcast di akun Youtube Kementerian ESDM, Minggu (8/2/2026).

Laode menerangkan, fokus pemerintah tidak hanya pada solar jenis CN48, tetapi juga solar kualitas tinggi (CN51). Impor CN51 juga ditargetkan akan setop pada tahun ini.

Indonesia selama ini masih mengimpor sekitar 600 ribu KL solar CN51. Laode memastikan pada semester II 2026, impor solar CN51 juga dapat dihentikan. "Bisa (setop impor). Kita sudah komitmen langsung dengan Pertamina-nya, baik dengan direksi maupun dengan komisaris bahwa setelah CN48 nanti, di semester kedua diusahakan yang CN51-nya bisa. Jadi, dalam tahun ini solar tuntas nih," tambah Laode.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan langkah awal adalah menyetop impor solar jenis C48 mulai tahun ini. Langkah ini sejalan dengan program mandatory biodiesel serta beroperasinya kilang terintegrasi RDMP Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Bahlil menjelaskan, total konsumsi solar di Indonesia saat ini berkisar 38 hingga 39 juta KL per tahun. Dengan adanya produksi dari RDMP Balikpapan dan akumulasi konsumsi B40, Indonesia akan mengalami surplus sekitar 1,4 juta KL. "Total konsumsi kita sekarang untuk solar itu kurang lebih sekitar 38 sampai 39 juta kiloliter (KL) per tahun. Nah, dengan produksi sekarang di Pertamina yang RDMP di Balikpapan, akumulasi konsumsi B40 totalnya sekarang kita surplus kurang lebih sekitar 1,4 juta kiloliter. Oleh karena kita surplus 1,4 juta kiloliter maka 2026 kita tidak lagi, saya ulangi, tidak lagi kita melakukan impor solar," terang Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1).

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan