KabarKalteng.com, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) telah membina 42.682 klaster usaha hingga akhir tahun 2025. Pembinaan ini dilakukan melalui program "Klasterku Hidupku" untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas. Total 3.001 kegiatan pemberdayaan berupa pelatihan dan sarana prasarana (sarpras) produksi juga diberikan.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memiliki program "Klasterku Hidupku" yang bertujuan membantu UMKM naik kelas melalui pendekatan pemberdayaan. Program ini ditargetkan khusus untuk pelaku usaha di sektor produksi yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya menghubungkan pelaku usaha dengan akses permodalan. Bank ini juga membangun ekosistem usaha yang memungkinkan kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal.
"Dengan pendekatan ini BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lainnya," ujar Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis pada Rabu (4/2/2026).
Ia berharap cerita inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi dapat direplikasi oleh pelaku usaha di daerah lain.
Berdasarkan data, hingga akhir tahun 2025, BRI telah membina 42.682 Klaster Usaha. Ini disertai dengan 3.001 kegiatan pemberdayaan yang mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana (sarpras) produksi. Fokus utama pembinaan diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah.
Salah satu klaster yang mendapatkan pendampingan dari program "Klasterku Hidupku" adalah Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) di Banyuwangi. Pemimpin Kelompok Panaba, Edy, menyatakan pendampingan dari BRI membuat petani jadi lebih berani mengembangkan usaha.
"Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu kan butuh modal besar. Kalau sendiri, berat," kata Edy.
Diketahui, sejak awal pendampingan yang diterima Klaster Panaba difokuskan pada kebutuhan paling mendasar dalam budidaya buah naga, yakni pemanfaatan lampu. Melalui inovasi ini, Klaster Panaba mengatur siklus produksi buah naga agar tidak bergantung pada musim.
Inovasi penggunaan lampu tersebut telah dikembangkan sejak 2013. Ini menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan konsistensi produksi serta kualitas panen buah naga di Banyuwangi.
Edy menjelaskan, "Bentuk pemberdayaan dari BRI itu mendukung kegiatan-kegiatan klaster." Ia menambahkan, ada juga bantuan berupa pelatihan, seperti mendatangkan pakar supaya petani bisa belajar langsung.
Selain itu, BRI juga mempermudah akses pinjaman modal. "Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang sulit," ujarnya.
Rangkaian dukungan BRI tersebut dinilai Edy memberikan dampak positif bagi kepercayaan diri petani dalam mengembangkan usaha. "Dengan adanya pendampingan dari BRI ini, petani jadi lebih yakin dan lebih berani untuk mengembangkan usaha buah naganya. Petani tidak jalan sendiri," tegas Edy.