KabarKalteng.com, Ketua DPR RI Puan Maharani menerima kunjungan Ketua Majelis Nasional Republik Korea, Woo Won-Shik, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1). Pertemuan ini membahas berbagai isu penting, termasuk perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea Selatan serta penguatan kerja sama bilateral dan ekonomi antara kedua negara.
Woo Won-Shik beserta rombongan tiba di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, sekitar pukul 11.00 WIB. Puan menyambut kedatangan Ketua DPR Korea Selatan itu didampingi oleh sejumlah anggota DPR. Mereka adalah Wakil Ketua Komisi XI Dolfie Othniel Frederic Palit, Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris, anggota Komisi XII Shanty Alda Nathalia, serta anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Gilang Dhielafararez, Stevano Rizki Adranacus, dan Pinka Hapsari.
Setibanya di Gedung Nusantara I atau Gedung Kura-Kura, Woo Won-Shik membubuhkan tanda tangan di buku tamu. Setelah itu, pertemuan bilateral antara Woo Won-Shik dan Puan berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan.
"Senang sekali bisa bertemu lagi dengan Yang Mulia, setelah terakhir bertemu pada Forum Konsultasi Ketua Parlemen MIKTA di Seoul," kata Puan, berdasarkan keterangan tertulisnya.
Puan juga mengucapkan selamat datang kepada Woo Won-Shik. "Saya harap Yang Mulia merasakan hangatnya penerimaan kami di Jakarta seperti yang telah kami rasakan saat diterima oleh Yang Mulia di Seoul," sambungnya.
Dalam pertemuan tersebut, Puan menyinggung isu perlindungan pekerja migran Indonesia yang berada di Korea Selatan. Ia menyampaikan terima kasih atas nama Indonesia kepada Republik Korea.
"Atas nama Indonesia, kami mengucapkan terima kasih kepada Republik Korea yang telah membuka peluang kerja bagi puluhan ribu pekerja migran Indonesia di berbagai sektor," ujar Puan.
Menurut Puan, perlindungan PMI menjadi perhatian utama DPR bersama pemerintah. Upaya ini mencakup peningkatan pelatihan pra-keberangkatan, pengawasan kondisi kerja di lapangan, hingga penegakan hukum bila terjadi pelanggaran.
"Kami mengapresiasi langkah-langkah Korea Selatan dalam memperbaiki regulasi ketenagakerjaan bagi pekerja asing dan kerja sama yang erat dengan perwakilan Indonesia di Seoul untuk memastikan setiap pekerja migran Indonesia di Korea dapat bekerja dengan aman, bermartabat, dan mendapat hak-haknya secara penuh," tuturnya.
Lebih lanjut, Puan menyoroti kerja sama bilateral dan antar-parlemen Indonesia-Korsel yang terus berkembang pesat. Diketahui, hubungan diplomatik RI-Korsel telah terjalin selama 53 tahun.
"Hari ini, Indonesia dan Republik Korea adalah mitra strategis khusus yang akan terus bekerja sama untuk memberikan manfaat langsung bagi rakyat kedua negara," jelas Puan.
Untuk Indonesia, Puan menjelaskan kemitraan dengan Korsel tidak semata kepentingan pragmatis. Kemitraan ini didasari kesamaan nilai seperti demokrasi, penghormatan hukum dan HAM, serta komitmen pada kerja sama multilateral yang adil berbasis aturan.
"Komitmen yang menjadi semakin penting di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini," ujarnya.
"Indonesia memandang kerja sama antara negara-negara middle powers, khususnya Indonesia dan Republik Korea, sangat penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat tatanan global yang lebih inklusif," sambungnya.
Di kawasan, Korsel merupakan salah satu mitra penting ASEAN sejak menjadi mitra dialog pada 1989 hingga menjadi Comprehensive Strategic Partner saat ini. Puan menyebut Indonesia menghargai peran aktif Korsel dalam mendukung sentralitas ASEAN dan visi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.
"Sejalan dengan itu, DPR RI berkomitmen untuk memperkuat kerja sama antar parlemen, termasuk melalui AIPA dan forum parlemen lainnya, sebagai dukungan konkret terhadap implementasi kesepakatan ASEAN-Korea," ungkapnya.
Puan memastikan DPR RI juga siap berperan aktif untuk memastikan kerja sama antara kedua parlemen selaras dengan agenda kerja sama eksekutif. "Agar kemitraan yang dibangun diterjemahkan secara konkret dalam program-program yang bermanfaat jangka panjang, tidak hanya bagi kedua bangsa, tetapi juga bagi masyarakat dunia," harap Puan.
DPR disebut menghargai berbagai inisiatif kerja sama antar-parlemen yang telah dibangun oleh kedua pihak. DPR sendiri secara khusus telah membentuk Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI-Majelis Nasional Republik Korea, yang dinilai akan menjadi tulang punggung kerja sama antara kedua parlemen.
"Ke depan, saya memandang penguatan kolaborasi antara kedua negara di berbagai forum parlemen internasional sangatlah krusial untuk memitigasi dampak-dampak buruk dari ketidakpastian global terhadap ketahanan sosial dan ekonomi di tingkat nasional dan lokal," papar Puan.
Terkait kerja sama ekonomi, Puan menyebut kemitraan Indonesia dengan Republik Korea sebagai salah satu pilar terpenting bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Puan mengatakan DPR sangat menghargai bahwa dalam satu dekade terakhir, Korsel konsisten menjadi investor besar di Indonesia.
Menurutnya, hal ini mencerminkan kepercayaan yang tinggi terhadap iklim ekonomi dan stabilitas kebijakan di Indonesia. "Saya harap ke depannya investasi Korea akan terus meningkat dan semakin berkualitas, terutama dalam hal penciptaan nilai tambah, alih teknologi, dan penguatan rantai pasok industri," ujar Puan.
Peningkatan investasi, tambahnya, akan sangat bermanfaat bagi Indonesia. Terutama di sektor energi terbarukan, industri rendah karbon, ekonomi digital, serta pengembangan kawasan industri dan proyek strategis, termasuk di luar Pulau Jawa dan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam sektor perdagangan, Puan menyebut DPR menekankan pentingnya upaya bersama untuk memangkas hambatan non-tarif. Ini termasuk penyelarasan standar dan sertifikasi yang akan memperlancar arus perdagangan bilateral.
"Kami berharap langkah ini meningkatkan akses produk unggulan kedua negara ke pasar satu sama lain. Saya yakin Pemerintah Indonesia akan terus memperkuat kepastian usaha melalui penyederhanaan perizinan dan pembaruan regulasi investasi," ucap Puan.
"Melalui sinergi kebijakan pemerintah dan dukungan parlemen kedua negara, kerja sama ekonomi Indonesia dan Korea akan memasuki fase baru yang lebih strategis dan saling menguntungkan," tuturnya.
Sementara itu, Woo Won-Shik menyatakan Korea Selatan ingin terus berinvestasi di Indonesia. "Korsel juga disebut akan terus mendukung pembangunan di Indonesia agar RI bisa mencapai target Indonesia Emas 2045," tutup Woo Won-Shik.